Determinasi Karakteristik Lingkungan Alam Terhadap Corak Interaksi Komunitas | Literasi Pembaharuan


Pendahuluan

Permukiman merupakan suatu kawasan yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan tempat melakukan kegiatan untuk mendukung kehidupan penghuninya, juga merupakan tempat hidup bersama dalam suatu proses bermukim. Dalam suatu permukiman terjadi hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam serta manusia dengan pencipta-Nya. Permukiman sangat berkaitan erat dengan karakteristik lingkungan dan perilaku penggunanya yang dominan. Permukiman yang terbentuk dari orang-orang yang masih mempunyai pertalian keluarga lewat perkawinan, akan berbeda dengan bentuk permukiman yang dibentuk oleh karena kesamaan mata pencaharian, demikian juga dengan permukiman-permukiman yang pemukimnya didominasi oleh etnis-etnis tertentu akan berbeda pula. (Nurjannah, 2008).


Lingkungan permukiman terbentuk bukan hanya dari hasil kekuatan fisik tetapi juga terkait dengan faktor-faktor sosial budaya yang ada di dalamnya. Rapoport (1969) mengemukakan bahwa faktor utama dalam proses terjadinya bentuk adalah budaya sedangkan faktor lain seperti iklim, letak dan kondisi geografis, politik dan ekonomi merupakan faktor pengubah (modifiying factor). Jadi dalam hal ini karakteristik lingkungan adalah salah satu faktor yang sangat mempengaruhi terbentuknya tata ruang suatu permukiman dan arsitektur permukiman, selain faktor perilaku manusianya. Kawasan permukiman juga akan memiliki keunikan tersendiri yang terbentuk karena adanya kekhasan budaya masyarakat, kondisi iklim yang berbeda, karakteristik tapak, pengaruh nilai-nilai spritualnya yang dianut, dan kondisi politik atau keamanan dari suatu daerah atau permukiman.

Terbentuknya suatu pola permukiman sangat dipengaruhi oleh budaya masyarakat setempat. Hal ini sejalan dengan pendapat Snyder (1985), yang menyatakan terbentuknya lingkungan permukiman dimungkinkan karena adanya proses pembentukan hunian sebagai wadah fungsional yang dilandasi oleh pola aktifitas manusia serta pengaruh setting (rona lingkungan) baik yang bersifat fisik maupun non fisik (sosial-budaya) yang secara langsung mempengaruhi pola kegiatan dan proses perwadahannya.

Keberadaan lingkungan permukiman tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat yang menghuninya, kegiatan-kegiatan yang dilakukan serta hubungan antara masyarakatnya. Kelompok sosial atau masyarakat seperti pada lingkungan permukiman terbentuk karena adanya interaksi sosial di dalamnya. Interaksi terjadi karena adanya kontak sosial dan komunikasi sosial. Dalam hubungannya dengan bentuk fisik lingkungan, tingkat interaksi ditentukan oleh struktur fisik dan susunan tempat tinggal, aspek-aspek simbolis dari unit-unit tempat tinggal, homogenitas, dan heterogenitas relatif dari masing-masing populasi, sifat pengendalian informasi yang diberikan masing[1]masing unit, mobilitas masing-masing populasi dimana mereka tinggal (Rapoport, 1982).

Dalam artikel saya kali ini saya ingin membahas tentang “Determinasi Karakteristik Lingkungan Alam Terhadap Corak Interaksi Komunitas” sebab di dalam setiap tindakan individu atau kelompok dapat dipengaruhi oleh berbagai hal. Baik itu faktor internal maupun eksternal. Termasuk didalammnya adalah lingkungan alam yang bisa menjadi acuan bagaimana pola interaksi masyarakat di suatu wilayah dengan wilayah yang lainnya.

Pembahasan

Determinasi Lingkungan

 Determinasi ligkungan juga dikenal sebagai determinisme iklim atau determinisme geografi, adalah pandangan bahwa lingkungan fisik, bukannya kondisi sosial, yang menentukan kebudayaan. Penganut pandangan ini mengatakan bahwa manusia ditentukan oleh hubungan stimulus dan respon (hubungan lingkungan-perilaku) dan tidak bisa "menyimpang" dari hal itu.

Argumen dasar dari penganut determinisme lingkungan adalah bahwa aspek dari geografi fisik, khususnya iklim, memengaruhi pemikiran individu, yang pada gilirannya akan menentukan perilaku dan budaya yang dibangun oleh individu tersebut. Sebagai contoh, iklim tropis dikatakan menyebabkan kemalasan dan sikap santai, sementara seringnya perubahan cuaca di daerah sub-tropis cenderung membuat etos kerja yang lebih bersemangat. Karena pengaruh lingkungan ini secara lambat laun memengaruhi kondisi biologis manusia, maka perlu untuk merunut migrasi dari kelompok untuk melihat kondisi lingkungan tempat mereka berevolusi.

Paham determinisme memberikan penjelasan bahwa manusia dan perilakunya ditentukan oleh alam. Tokoh-tokoh atau ilmuwan yang mengembangkan dan menganut paham determinisme diantaranya Charles Darwin, Frederich Ratzel dan Elsworth Huntington.

Charles Darwin (1809) menurutnya makhluk hidup secara berkesinambungan mengalami perkembangan dan dalam proses perkembangan tersebut terjadi seleksi alam (natural selection). Makhluk hidup yang mampu beradaptasi dengan lingkungannya akan mampu bertahan dan lolos dari seleksi alam. Dalam hal ini alam berperan sangat menentukan.

Frederich Ratzel (1844-1904) menurutnya manusia dan kehidupannya sangat tergantung pada alam. Perkembangan kebudayaan ditentukan oleh kondisi alam, demikian halnya dengan mobilitasnya yang tetap dibatasi dan ditentukan oleh kondisi alam di permukaan bumi.

Elsworth Huntington, menurutnya iklim sangat menentukan perkembangan kebudayaan manusia. Iklim di dunia sangat beragam. Keragaman iklim tersebut, menciptakan kebudayaan yang berlainan. Sebagai contoh, kebudayaan di daerah beriklim dingin berbeda dengan di daerah beriklim hangat atau tropis.

Determinisme sebagai istilah luas yang mengacu pada penjelasan yang menetapkan faktor pengaruh lingkungan yang mendominasi seluruh sistem. Determinisme lingkungan secara khusus, menegaskan bahwa lingkungan alam menentukan jalannya budaya. Dalam model ini, masyarakat manusia terbatas pada berbagai hasil atau bahkan hasil tunggal dengan satu set tertentu dalam parameter lingkungan

Meskipun terdapat kelemahan pada konsep determinisme lingkungan, timbulnya konsep menyebabkan pertanyaan lebih lanjut mengenai bagaimana lingkungan mempengaruhi budaya dan perkembanganya. Menanggapi tuntutan yang kuat pada konsep determinisme lingkungan, Franz Boas (1858-1942) menyajikan pandangan alternative terkait keterbatasan lingkungan yang disebut sebagai possibilism sejarah yang mengklaim bahwa meskipun alam dapat membatasi peluang manusia dan faktor budaya menjelaskan peluang atau kemungkinan apa yang sebenarnya dipilih.

Boas menolak lingkungan sebagai penentu budaya dan sebaliknya mencari penjelasan untuk perbedaan budaya dalam sejarah budaya tertentu dari suatu masyarakat. Dia menyarankan bahwa ketersediaan sumber daya tidak mempengaruhi populasi untuk menggunakan sumber daya dengan cara tertentu dan menyimpulkan bahwa keputusan budaya menentukan arah perubahan budayanya sendiri.

Interaksi Komunitas

Interaksi sosial adalah hubungan sosial yang dinamis dan menyangkut hubungan antar orang-perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, atau orang perorangan dengan kelompok manusia. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), interaksi sosial adalah hubungan yang dinamis antara orang satu orang ke orang lainnya, antara perseorangan dan kelompok, dan antara kelompok dan kelompok.

Menurut Chaplin, arti interaksi adalah relasi antara dua sistem yang terjadi hingga membentuk sedemikian rupa sehingga peristiwa yang ada dalam satu sistem tersebut mempengaruhi kejadian yang ada di sistem lainnya. Selain itu, interaksi juga diartikan sebagai hubungan sosial antar individu hingga membentuk sistem dan memengaruhi satu sama lain. Adapun interaksi komunitas merupakan hubungan timbal balik diantara kelompok satu dengan yang lainnya dapat bersifat saling menguntungkan atau bahkan sebaliknya.

Kesimpulan

Lingkungan juga mengambil peran penting dalam terbentuknya karakter atau sifat seseorang. Hal itu bisa didasarkan pada pengaruh tempat tinggal dan orang sekitar. Bagaimana bisa kita perhatikan perbedaan karakteristik orang yang tinggal di tepi pantai dengan orang yang tinggal di pegunungan begitu juga dengan orang yang tinggal di pedesaan dan perkotaan.

Karakter ini bisa berpengaruh terhadap tindakan atau pola interaksi yang dilakukan oeh individu bahkan komunitas yang ada. Contoh kecilnya bisa dilihat dari bagaimana komunitas masyarakat di pedesaan dan perkotaan dalam berinteraksi dikala memiliki hajatan atau kegiatan-kegiatan yang lainnya.

Jadi seorang individu atau komunitas harus bisa beradaptasi dengan baik dilingkungannya guna menghindari sesuatu yang tidak diinginkan. Jika tidak pandai beradaptasi bisa jadi hal itu akan menjadi masalah dikemudian hari tanpa diketahui bahkan tanpa disadari pada akhirnya.


Ihsan Hadi, Sosiologi Lingkungan, Prodi Sosiologi, Dr. Taufiq Ramdani, S.Th.I., M.Sos

Komentar